UJIAN SKRIPSI; MAHASISWA PMI TELITI MITIGASI BENCANA GUNUNG SEMERU
Jember – Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, atas nama Wahyu Ferdinan, melaksanakan ujian skripsi pada hari Rabu, 18 Juni 2025.
Skripsi yang diangkat bertajuk “Mitigasi Bencana Berbasis Early Warning System (EWS) BPBD Lumajang dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Risiko Bencana Semeru”.
Ujian skripsi ini berlangsung di ruang sidang Fakultas Dakwah dengan tim penguji terdiri dari Dr. H. Sofyan Hadi sebagai penguji utma, M. Arif Mustaqim sebagai penguji pendamping, Achmad Faesol, M.Si sebagai ketua penguji dan Fiqih Hidayah Tunggal, M.M sebagai sekretaris sidang.
Dalam paparannya, Wahyu Ferdinan menyampaikan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya ancaman bencana erupsi Gunung Semeru yang secara berkala terjadi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana (KRB) Semeru hidup dalam kondisi yang menuntut kesiapsiagaan tinggi terhadap berbagai potensi bahaya.
“Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran Early Warning System (EWS) yang diterapkan oleh BPBD Lumajang dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Saya ingin memahami apakah sistem peringatan dini tersebut sudah efektif, serta bagaimana masyarakat merespons informasi yang diberikan,” ujar Wahyu saat menjawab pertanyaan dari tim penguji.
Dalam kajian skripsinya, Wahyu menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi penelitian di kabupaten lumajang yang merupakan daerah terdampak langsung letusan Semeru.
Ia melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam dengan aparat BPBD, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menjadi bagian dari jejaring EWS berbasis komunitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan EWS memiliki peran penting dalam mempercepat proses evakuasi dan penyelamatan warga, terutama saat terjadi erupsi besar.
Namun demikian, masih terdapat kendala di lapangan seperti keterbatasan akses informasi, kurangnya pemahaman teknis masyarakat terhadap kode-kode peringatan, dan minimnya pelatihan rutin kebencanaan.
Tim penguji mengapresiasi topik yang diangkat karena dinilai sangat relevan dengan konteks pengembangan masyarakat berbasis mitigasi bencana. (fae)




